Essay oleh Ryan Adnu
Ditulis dari Bandung. Dengan khusyuk di beberapa coffee shop, rumah dan studio.
Dari sebuah perjalanan dan cerita yang panjang tentang penelusuran “spiritual” personal.
Tulisan ini lahir dari keterlibatan, bukan dari pengamatan jarak jauh.
Sejak awal aku tahu, Garut memang kacau.
Tapi belum sempat mengemukakan bagaimana aku melihatnya.
Hingga mungkin tulisan ini akan memberikan perannya.
Selamat membaca jalan pikiran menuju pengalaman kreatifitas, profesional dan kepedulian terhadap berkembangnya sebuah “peradaban kreatif”.
Untuk konteks, aku bekerja di industri desain, branding, dan marketing selama kurang lebih sepuluh tahun. Memulai dari kota kelahiranku, Bandung. Lalu tiba-tiba ada beberapa potensi klien di Garut hingga akhirnya—mengalami, berdiskusi, membersamai, hingga menginisiasi beberapa proyek di Garut sejak 2024 (intensnya). Menulis ini di Bandung saat jeda akhir tahun 2025, aku punya firasat: tulisan ini akan dibaca rekan-rekan disana sebagai perbendaharaan cara pandang/ bacaan sebelum tidur.

Gambar: Meja kerja di awal karir agensi sederhana, tapi banyak karya lahir dari sini.
Kesan awalku tentang Garut datang dari jarak. Sejak 2021, aku mengunjunginya hampir sebulan sekali untuk proyek branding dan marketing. Garut selalu memanjakan mata—gunung, bukit, laut, dan nilai-nilai lokal yang begitu kuat. Bahkan agenda kerja pun terasa seperti liburan. Garut, dalam imajinasiku, tersaji sebegitu indahnya sebagai destinasi.
Kesempatan melihat Garut lebih dekat datang pada 2024. Tawaran pekerjaan konsultan marketing selama enam bulan mempertemukanku dengan lapisan yang lebih inti: manusianya.
Klienku adalah sebuah perusahaan wisata, dan dari sana aku mulai memahami ritme kerja, cara berinteraksi, dan jarak antara potensi yang besar dengan praktik yang (sayangnya) masih berantakan.
Sebelum benar-benar mengalaminya, aku membawa banyak prasangka. Cerita-cerita yang kudengar terdengar dari teman-teman asal Garut yang merantau ke Bandung cukup seragam: Garut susah maju. Orang-orangnya tidak produktif. Jago merantau, tapi jarang membangun di rumah sendiri.
Enam bulan bekerja sebagai konsultan di Garut, seminggu sekali visit Bandung-Garut itu akhirnya memberiku satu hal yang paling penting: aku mengalami Garut dengan pengalamanku sendiri.
_
Dari pengalaman langsung itulah ada persepsi yang tumbuh.
Garut ternyata memang punya banyak alasan kenapa belum kunjung berkembang, tapi juga menyimpan daya tarik yang—jika diolah dengan tepat—bisa menjadi kekuatan.
Yang pertama menarik perhatianku (karena bergerak di industri marketing dan creating contents) adalah sensitivitas kreatif para pelakunya. Banyak karya diproduksi dengan kesungguhan dan jiwa craftmanship yang kuat. Videografi dengan kedalaman visual yang matang, brand fashion lokal yang dikelola serius hingga dikenal secara nasional, musisi dengan daya tarik lintas internasional, hingga seniman yang karyanya terasa terlalu besar jika hanya berputar di lingkar lokal.
Di titik ini, skeptisismeku mulai bergeser.
Bukan karena Garut tiba-tiba jadi tampak keren, tapi karena aku melihat sesuatu yang lebih mendasar: manusianya.
Walaupun, persepsi awal itu tidak datang dalam bentuk yang rapi.
Ia hadir berdampingan dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang SANGAT MENGANGGU—ritme kerja yang longgar, disiplin yang tidak konsisten, dan ekspektasi yang sering kali tidak seimbang dengan usaha.
Di sinilah aku mulai sadar: Garut bukan tentang kurangnya potensi, dia hanya hidup berdampingan dengan kekacauan—antara kemampuan untuk tumbuh dan kebiasaan yang justru menahannya.
Dan mungkin, kuulangi mungkin, ekonomi kreatif adalah medan paling jujur untuk melihat pertarungan itu secara langsung.

Garut, Februari 2024. Restorasa. Pertemuan pertama pekerjaan konsultansi di bisnis wisata.
Sepanjang 2025, hari-hariku di Garut berjalan dengan ritme yang aneh. Tidak pernah benar-benar teratur, tapi selalu penuh. Aku datang dan pergi antara Bandung dan Garut dengan jadwal yang berulang: Minggu sampai Rabu di Bandung, Kamis sampai Sabtu di Garut. Awalnya terasa seperti pola kerja biasa. Lama-lama, aku sadar ini bukan sekadar soal waktu, tapi soal keterlibatan. Aku tidak lagi sekadar datang untuk mengerjakan sesuatu, tapi mulai hidup di dalamnya.
Pikiran liarku pernah berkata
“Saking senang sekali diri bercumbu dengan Garut, Bandung seringkali terlihat cemburu.” (?)
Anyway, kembali ke topik:
MOTE KREATIF menjadi pintu masuk pertamaku. Sebuah Creative Digital Agency yang dibangun sejak agustus 2024. Aku mengira ini hanya soal membangun sebuah creative digital agency—sesuatu yang menurutku cukup rasional mengingat praktik marketing di Garut nyaris tidak punya agency yang bekerja dengan pendekatan marketing yang terukur.
Kehadirannya cepat jadi bahan obrolan. Ada yang tertarik, ada yang skeptis, ada yang ingin tapi ragu membayar.
Dari situ aku belajar satu hal sederhana: bukan soal apakah brand lokal butuh marketing yang lebih baik, tapi bagaimana caranya meng-inject pemahaman baru di sebuah lingkungan yang tidak tahu bahwa praktik yang ada tidak akan membawa perubahan berarti.
To make change, something needs to be change, right?

Gambar: Sebuah “after-meeting” meeting, di Duduk Gembira, Garut. Bersama seluruh Tim Mote.
Berselang setahun, The HOP Space dibangun. Awalnya hanya kantor. Tempat kerja yang fungsional. Tapi ruang itu berubah pelan-pelan. Ia lalu ditransformasikan menjadi sebuah collaboration space. didalamnya tergabung MOTE KREATIF, Popotoan, Pleasure Noise, dan orang-orang yang datang silih berganti membawa gagasan, keresahan, kadang kegiatan gabut dan beberapa rencana yang belum tentu matang.
Tempat ini memantik banyak pergerakan, banyak optimisme kolektif yang jadi tampak mungkin di tempat yang mengusung tema “House Of Possibility” ini.
Walau sebenarnya jujur, agak jengkel bila menemukan orang yang datang tanpa berniat mencipta karya apapun. Namun, di situ aku melihat sesuatu yang tidak diajarkan di kuliah dulu: ternyata infrastruktur, ketika ditempatkan dengan niat yang tepat, bisa memantik keberanian untuk berkarya.
Bukan karena ruangnya sempurna, tapi karena ia memberi izin untuk mencoba.

Gambar: The HOP Space, collaborative space yang terletak di daerah Cipanas, Garut.
Pleasure Noise mungkin contoh paling anomali dan membingungkan. Hiphop di Garut terasa seperti anomali sejak awal. Tidak ada gigs rutin. Tidak ada kultur yang terlihat bentuknya. Tidak ada ekosistem yang mendukung secara alami. Tapi somehow, Pleasure Noise terus jalan. Pelan, konsisten, nyaris bisa disebut tanpa melihat resiko.
Sampai satu titik, lagu “Garut Jang Dunya” justru menjadi anthem yang diputar di banyak agenda.
Menyatukan seluruh warga Garut, bahkan menciptakan semacam riak-riak hegemonis di kalangan skena hiphop tatar Sunda.
Sebelumnya, akhir pekan di kafe-kafe Garut diisi oleh live music akustik atau DJ set. Kini, di beberapa sudut kota, orang-orang mulai terbiasa mengangguk mengikuti irama, menggerakkan badan mereka, membiarkan kepala dan bahu ikut bernyanyi bersama GARUT JANG DUNYA. Hiphop Pleasure Noise pelan-pelan mengambil ruang—hadir di tempat-tempat yang dulu tak pernah membayangkan hiphop bisa diterima, justru sekarang menjelma menjadi “new wave” (bila boleh meminjam istilah) di kota ini.
Dari situ aku belajar bahwa apresiasi tidak selalu datang lebih dulu. Kadang ia harus diciptakan lewat praktik yang konsisten dan ketepatan momentum.

Gambar: Acara Early screening MV Garut Jang Dunya – Pleasure Noise, di The HOP Space
Di sisi lain, Silang Simpul Warga, sebuah movement sipil dalam praktik ekonomi kreatif dan produknya Karya Kultur Kreatif, perhelatan ekonomi kreatif pertama di Garut, membuka lapisan Ekraf Garut yang lainnya.
Forum, diskusi, perhelatan—semuanya terasa gak pas. Banyak keterbatasan, banyak keputusan dadakan, banyak hal yang seharusnya bisa lebih matang. Tapi justru di situ aku melihat sesuatu yang penting: keinginannya ada, secara kolektif niat untuk berkumpul dan menilai diri sendiri ada disana. Untuk bertanya, sejauh mana ekonomi kreatif ini benar-benar berjalan, dan apa yang perlu diperbaiki bersama. Atleast, thats a good thing to start, somewhere.

Gambar: Sesi diskusi silang simpul warga membahas keresehan para pelaku ekonomi kreatif Garut, November 2025
Dari semua itu, tidak ada satu pun pengalaman yang terasa sempurna. Tapi justru dari ketidaksempurnaan yang berulang itulah aku mulai memahami satu hal: Garut sedang bergerak dengan caranya sendiri. Kadang jadi grasak-grusuk, kadang terlalu santai, sering kali juga gak sinkron. Dan di tengah semua itu, rasanya aku sudah bisasedikit banyak menilai. Karena ikut terjebak, ikut lelah, ikut berharap, dan ikut belajar membaca arah.

Gambar: Karya Kultur Kreatif, sebuah perhelatan perayaan ekonomi kreatif pertama Garut, dan para pemangku kepentingan didalamnya
Semakin lama aku hidup di dalam ekosistem ini, semakin jelas bagiku bahwa KACAU-NYA GARUT bukan datang dari kekurangan potensi.
Bukan karena tidak ada talenta, bukan karena tidak ada ide, apalagi karena tidak ada energi. Justru sebaliknya—energinya besar, idenya banyak, orang-orangnya penuh gairah. Yang menggangguku justru hal-hal kecil yang terus berulang dan ANEHNYA: dinormalisasi.
Kesadaran akan apresiasi terasa rendah, dan ironisnya sering kali tidak dimulai dari ekosistem kreatifnya sendiri. Karya ingin dihargai, tapi proses enggan dijaga. Ingin diakui, tapi sulit saling mengapresiasi secara konsisten. Banyak yang ingin dilihat besar, tapi belum terbiasa membangun kualitas secara pelan dan berulang. Padahal ekosistem apa pun tumbuh bukan dari sorotan, tapi dari kebiasaan.
Di keseharian, aku sering bertemu pola-pola yang terasa sepele tapi dampaknya panjang. Tidak tepat waktu dianggap wajar. Komitmen kecil mudah diingkari, lalu dibenarkan dengan alasan situasi. Banyak wacana, sedikit gerak. Rapat dan diskusi bisa berjalan lama, tapi keputusan sering menguap tanpa tindak lanjut. Semua terasa santai, bahkan di momen-momen yang seharusnya menuntut kesigapan.
Ada juga persoalan ego dan perkubuan. Energi kolektif yang seharusnya saling menguatkan justru terpecah dalam kelompok-kelompok kecil yang sibuk menjaga wilayahnya masing-masing. Kritik jarang disampaikan di ruang terbuka, tapi ramai dibicarakan di belakang. Malu menyampaikan langsung, tapi berani menyimpulkan diam-diam. Pola ini pelan-pelan menggerogoti kepercayaan—sesuatu yang seharusnya jadi fondasi ekosistem kreatif.
Hal lain yang cukup menggangguku adalah kebiasaan tidak percaya pada ekspertis. Pekerjaan khusus sering dipercayakan pada siapa saja yang tersedia, bukan pada mereka yang benar-benar paham. Seolah-olah semua bisa dikerjakan oleh siapa pun, tanpa perlu proses belajar yang dalam. Di titik ini, kualitas sering dikorbankan demi kepraktisan jangka pendek.
Dalam relasi antargenerasi, persoalan itu berlapis. Senioritas kadang berdiri sendiri tanpa diimbangi otoritas sosial berupa karya yang terus bertumbuh. Usia dan pengalaman masa lalu dijadikan pijakan, tapi tidak selalu disertai pembaruan. Sementara yang lebih muda diminta menghormati, tanpa benar-benar diajak belajar lewat teladan yang relevan dengan zaman mereka.
Semua ini membuat Kacau-nya Garut terasa bukan sebagai sesuatu yang dramatis, tapi jadi realitas sehari-hari dilapangan. Ia bukan masalah besar, tapi seringkali mengendap. Ia tidak menghentikan pergerakan, tapi memperlambatnya. Dan justru karena itulah ia berbahaya—karena mudah dinormalisasi, lalu diterima sebagai bagian dari “nya da kieu lah ayana” (ya beginilah adanya).

Gambar: Bunga yang mekar dan gugur di pekarangan The HOP Space.
Ada hari-hari di mana aku benar-benar ingin berhenti.
Bukan karena Garut tidak punya potensi, tapi karena aku sadar sedang bertarung dengan diriku sendiri—menaruh terlalu banyak harapan perubahan pada sebuah daerah yang, secara genetik dan historikal, tidak terikat apa pun denganku. Aku bukan orang Garut. Aku tidak tumbuh di sini. Dan menghabiskan begitu banyak energi untuk membangun sesuatu di tempat yang tidak sepenuhnya bisa mewakiliku, juga tidak selalu bisa kuwakili, sering kali terasa melelahkan secara batin. Sebuah hal yang kupikir jadi wajar dan masuk akal.
Perasaan itu tidak selalu hadir sebagai kemarahan. Lebih sering ia muncul sebagai pertanyaan kecil yang berulang:
“kenapa aku masih ke sini ya?”
Dan justru dari pertanyaan itu aku sampai pada satu pemahaman sederhana—bahwa ternyata manfaat tidak pernah benar-benar mengenal teritori.
Aku cukup beruntung memiliki pengalaman dan kemampuan yang, ketika ditempatkan di konteks yang tepat, bisa memantik sesuatu.
Di Garut, aku merasakan dampak itu lebih nyata dibandingkan di kota yang selama ini menjadi pusat hidupku. Bukan karena aku lebih penting di sini juga, jauh daripada itu, karena ruangnya masih longgar untuk disentuh.
Ada momen-momen hening yang mengubah caraku memandang semua ini.
Jadi ingat kala duduk santai di sofa hitam The HOP Space, lalu ku memikirkan satu hal yang mengganggu:
“apakah semua yang terjadi ini hanya euforia? Atau justru ada sesuatu yang lebih dalam sedang bergerak?”
Aku berpikir apa jawabannya. Dan dari obrolan di warung kopi, diskusi panel yang tidak selalu rapi, sampai kerja-kerja kolaboratif yang sering berjalan terseok, aku mulai melihat pola yang sama.
Tidak ada yang benar-benar bernama euforia.
Yang ada adalah kegelisahan kolektif—sesuatu yang “ngabagel” (mengganjal) di kepala banyak orang disini, dan itu memaksa mereka bergerak meski belum tahu arahnya dengan pasti.
Di titik itu, aku mulai sadar bahwa kehadiranku di sini bukan lagi soal proyek atau peran, tapi soal makna hadir itu sendiri.
Bahwa ide, visi, dan misi selalu punya harga yang harus dibayar. Dan sering kali, harganya tidak murah. Hadir berarti meluangkan waktu, mengorbankan tenaga, menjaga fokus, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Ia menuntut konsistensi di saat semangat turun, dan komitmen di saat hasil belum terlihat.
Aku tidak menganggap diriku istimewa karena memilih jalan ini.
Justru sebaliknya—aku berharap prinsip ini dimiliki lebih banyak pelaku kreatif di sini.

Karena ekosistem kreatif yang tumbuh dan bertahan tidak dibangun semalam, tidak lahir dari effort yang setengah-setengah, dan tidak bisa disandarkan pada kebiasaan yang tidak disiplin atau kemauan yang bergantung pada mood. Harga untuk menjadi besar sebagai kekuatan bersama memang mahal. Tapi ia selalu bisa dimulai dari hal paling sederhana: memilih untuk tetap hadir, dan terus mewarnai.
Yang ingin kupertahankan di sini, ternyata bukanlah keutuhan proyek, bukan nama, dan bukan pencapaian.
Yang lebih rapuh, sekaligus lebih penting, ternyata adalah api.
Energi yang membuatku mau datang lagi, mencoba lagi, dan gagal tanpa sepenuhnya menyerah.
Api ini tidak selalu terang, tapi cukup untuk menjaga proses tetap berjalan. Ia menerangi banyak proses belajar—termasuk proses belajarku sendiri—di tengah kacaunya Garut yang belum selesai.
Kalau aku berhenti, Garut tidak mengalami kerugian apapun, tapi sesuatu dalam diriku mengalaminya.
Aku akan kehilangan versi diriku yang setiap pagi bangun dengan satu pertanyaan sederhana:
“ada dampak apa yang bisa kutinggalkan hari ini?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar remeh, tapi justru ia yang paling konsisten menuntunku untuk tetap hadir.
Tanpa sadar, aku juga sudah mengambil beberapa peran di tengah ekosistem ini—yang kadang sebagai pendorong, kadang sebagai penjembatan, kadang juga sebagai bagian dari masalah itu sendiri (hehehe).
Melalui MOTE Kreatif, aku melihat langsung bahwa membangun lingkungan yang dibangun dari ekspertis dan spesialis di kota dengan apresiasi kreatif yang belum mapan adalah proses lambat menuju kebangkrutan dan terganggunya mental health, tapi dari situ pula aku belajar bahwa dengan sistem yang tepat dan keseriusan jangka panjang, sumber daya manusia di Garut sebenarnya sangat mampu berkembang tanpa harus selalu mencari legitimasi dari luar (tapi asli pak, kesangan sih).

Gambar: Anak-anak MOTE sedang makan siang di The HOP Space (?)
Mungkin itulah alasan paling jujur kenapa sub-concious-mind-ku tak menyuruh pergi dari kabupaten ini.
Kabupaten yang ditinggalkan warganya sendiri untuk mencari karirnya.
Yang ditinggalkan sendirian tanpa diberikan kesempatan berkembang.
Alasannya juga bukan karena aku merasa paling peduli.
Ternyata alasannya karena Garut sedang belajar, dan di tengah semua kacaunya ekosistem kreatif daerah ini, aku memilih ikut belajar—bersama dengannya.

Gambar: Foto Bareng peserta Kelas Mote Vol.2 Setelah acara sukses diselenggarakan, The HOP Space, November 2025
Di titik ini, aku akhirnya memahami apa yang selama ini menggangguku—dan sekaligus membuatku bertahan.
Garut memang kacau.
Kacau dalam arti yang paling nyata: proses yang belum matang, disiplin yang sering bocor, harapan yang kadang melompat terlalu jauh dari kesiapan.
Kekacauan semacam ini melelahkan, dan sering kali membuat ingin berhenti.
Tapi di saat yang sama, Garut juga kacau dalam arti yang lain.
Kacau yang hidup. Kacau yang penuh tabrakan ide, kegelisahan kolektif, dan hasrat untuk bergerak meski jalannya belum jelas. Kekacauan yang, jujur saja, akan sangat disayangkan jika tidak diberi ruang untuk bertumbuh lewat ekonomi kreatifnya.
“Kacau-lah kalo gak terkelola potensinya.”
Di sinilah aku berdamai dengan situasi.
Bahwa peranku—dan mungkin peran banyak orang lain—bukan memilih arti dari kacau ini akan menjadi apa, melainkan ikut bertanggung jawab memilahnya: mana yang harus dibereskan, dan mana yang justru perlu dijaga agar tidak stagnan,
yaaa, satu centimeter setiap hari lebih maju nampak tidak buruk. atau kalau bisa lebih cepat lebih baik.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi, apakah Garut benar-benar kacau.
Melainkan: kekacauan yang mana yang sedang kita hadapi—dan kekacauan yang mana yang berani kita rawat agar menjadi sesuatu yang memberikan daya tumbuh?
Tinggalkan komentar